Jumat, 15 Oktober 2010

LUBANG SAMA PAKE AJA



5812untitled-1.jpgMenuruti anjuran pabrikan motor untuk memakai spare-parts orisinal memang bagus. Namun, tidak selamanya itu bisa dilakukan. Terutama jika kita sedang jauh dari bengkel resmi atau di daerah yang terpencil. Dan juga melihat kondisi part yang akan diganti. Selama masih ada substitusinya boleh saja. Asal kualitas dan peruntukannya tepat.

Seperti pada komponen paking knalpot. Spare-parts yang satu ini sebenarnya termasuk dalam kategori barang cepat laku alias fast-moving. Sebab, menurut Mahrawi, dari divisi Marketing PT NHK Gasket, paking knalpot harusnya diganti setiap bongkar-pasang knalpot.

"Khususnya gasket model spiral wound. Karena akan gepeng dan rusak. Tapi kalau gasket dari pelat kuningan atau tembaga, bisa dipakai beberapa kali," ujar Mahrawi.

Lantaran kudu gonta-ganti tiap bongkar knalpot, kita nggak bisa berpatokan pada barang orisinal. Apalagi, menurut Mahrawi, gasket knalpot tidak mempunyai spefisikasi yang sangat khusus untuk tiap motor. Kata kuncinya, seperti yang diungkap Mahrawi, selama ukurannya sama, silakan disubstitusi.

Sebagai contoh, gasket knalpot Ninja 250R yang model pelat tembaga. Menurut Ketut Hargunanto, klop dengan gasket dari motor Honda Supra. "Harga paking knalpot Supra lebih murah dari orisinalnya Ninja 250R. Lagipula mudah ditemukan di banyak bengkel atau toko spare-parts," bilang pemilik sekaligus mekanik bengkel Pro Tuner di Denpasar, Bali itu.

Informasi dari Ketut nyambung sama omongan Mahrawi. Selama klop, gak masalah substitusi. Alasannya, "Tekanan di paking knalpot tidak besar. Gas buang cuma numpang lewat. Asal tidak bocor parah. Jadi, selama ukuran sama, boleh dipakai saling-tukar," jelas Mahrawi yang ngantor di Karawang International Industrial City.

Karena lebih leluasa. Kita hanya tinggal memperhatikan ukurannya. Yang diperhatikan diameter luar dan dalam. Diameter luar harus sama karena biasanya ada rumah paking di silinder blok atau kepala silinder. Jadi dia harus bisa masuk. Sedangkan diameter dalam perlu sama, karena pabrikan sudah mengukur agar sama dengan diameter lubang eksos di kepala silinder atau silinder.

"Diameter luar agak lebih kecil tidak masalah. Selama bisa masuk dalam rumah paking knalpot. Diameter dalam lebih besar tidak masalah, sebab tidak mengganjal arus gas buang. Asal; jangan sebaliknya. Kalau diameter luar lebih besar dan diameter dalam lebih kecil tidak bisa dipakai," jelas Ketut.

Sebagai acuan, kebanyakan pabrikan motor mengaplikasi lubang buang di kisaran 22-30 milimeter di motor standar mereka. Sedangkan rumahnya punya diameter sekitar 3 sampai 5 milimeter lebih besar dari diameter lubang buang. Makanya pabrikan gasket membuat paking dengan diameter dalam di kisaran 26-30 milimeter.

"Biasanya paking knalpot punya diameter luar 32 milimeter sampai 36 milimeter. Dengan ketebalan paking berkisar antara 2 sampai 5 milimeter," tegas Mahrawi.

Anjuran terakhir Mahrawi, sebaiknya paking knalpot tidak usah diberi lem. "Sebab, paking sudah mengandung lem yang bisa merekatkan lubang eksos dengan moncong leher knalpot. Makanya begitu dibongkar, harus diganti. Karena unsur lem sudah hilang," anjurnya.

Kecuali kepepet tidak punya cadangan, atau dompet tipis, bolehlah menggunakan lem.

0 komentar:

Poskan Komentar